Ciamis, – Bupati Ciamis Herdiat Sunarya memberikan apresiasi tinggi atas berdirinya Akademi Reforma Agraria Sejati (ARAS) Siti Halimah di Desa Kalijaya, Kecamatan Banjaranyar. Menurutnya, kehadiran lembaga pendidikan tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat perjuangan reforma agraria sekaligus meningkatkan peran perempuan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Herdiat saat menghadiri peresmian Akademi Reforma Agraria Sejati (ARAS) Siti Halimah yang dirangkaikan dengan Deklarasi Perempuan Pejuang Agraria Jawa Barat di Gedung ARAS Siti Halimah, Desa Kalijaya, Banjaranyar, Kamis (2/7/2026).
Dalam sambutannya, Herdiat menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Serikat Petani Pasundan (SPP) atas berdirinya gedung ARAS Siti Halimah di Kabupaten Ciamis. Ia menilai kehadiran akademi tersebut merupakan bukti nyata komitmen dalam memperjuangkan keadilan agraria melalui pendidikan dan penguatan kapasitas masyarakat, khususnya kaum perempuan.
"Momentum hari ini bukan hanya milik warga Ciamis, tetapi menjadi bagian dari gerakan kolektif serta simbol solidaritas perjuangan agraria di tingkat regional maupun nasional," ujar Herdiat.
Ia menjelaskan, pemilihan nama Siti Halimah memiliki makna yang sangat mendalam. Nama tersebut mencerminkan keteguhan, keberanian, serta dedikasi perempuan dalam memperjuangkan hak-hak agraria dan menjaga kedaulatan pangan.
Herdiat mengaku bangga karena Kecamatan Banjaranyar kini resmi menjadi pusat pendidikan dan pelatihan perempuan pejuang reforma agraria di Indonesia. Menurutnya, hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Ciamis.
"Kami sangat bangga karena Ciamis dipercaya menjadi pusat pendidikan perempuan pejuang reforma agraria. Ini membuktikan bahwa tanah Ciamis merupakan tanah yang subur bagi lahirnya gagasan-gagasan progresif dan gerakan kemanusiaan yang berkeadilan," katanya.
Dalam kesempatan itu, Herdiat menegaskan bahwa reforma agraria dan ketahanan pangan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keadilan dalam penguasaan dan pemanfaatan lahan, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem pangan yang kuat dan berkelanjutan.
"Tidak mungkin kita berbicara tentang ketahanan pangan tanpa terlebih dahulu menjamin keadilan akses atas tanah bagi para petani. Tanah adalah modal utama produksi pertanian. Ketika petani memiliki kepastian dan kedaulatan atas tanahnya, semangat untuk berproduksi, berinovasi, dan menjaga keberlanjutan pangan akan tumbuh semakin kuat," ungkapnya.
Lebih lanjut, Herdiat menaruh perhatian besar terhadap peran perempuan dalam sektor pertanian. Ia menilai perempuan petani selama ini menjadi pilar yang sangat kokoh dalam menjaga keberlangsungan pangan, meski kerap kurang mendapatkan perhatian.
Menurutnya, perempuan petani bukan hanya membantu proses produksi pertanian, tetapi juga berperan sebagai penjaga keanekaragaman hayati, perawat bumi, penyimpan benih-benih lokal, sekaligus benteng pertama ketahanan pangan di tingkat keluarga.
"Oleh karena itu, perempuan harus mendapatkan ruang yang lebih luas untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan, dan perannya dalam perjuangan reforma agraria maupun pembangunan pertanian," ujarnya.
Bupati menambahkan, keberadaan ARAS Siti Halimah memiliki nilai strategis sebagai pusat pendidikan dan pelatihan yang akan melahirkan perempuan-perempuan pejuang agraria yang tangguh, berpengetahuan, dan mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Ia berharap akademi tersebut menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya kader-kader perempuan yang tidak hanya memperjuangkan keadilan agraria, tetapi juga mampu memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong terwujudnya pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
PROKOPIM CIAMIS
photo_cameraDokumentasi
Topik Terkait:
Apakah artikel ini bermanfaat?
Bantu admin instansi meningkatkan kualitas publikasi.